Tingkatkan Kualitas Pembelajaran, Statistika UNAIR Bekali Guru SMA Negeri 1 Besuki dengan Teknologi Digital

Situbondo, 17 Oktober 2026 – Bagaimana cara membuat soal yang dapat melatih penalaran siswa? Bagaimana pula cara menjaga agar ujian berbasis komputer berjalan dengan jujur? Pertanyaan itu menjadi salah satu fokus kegiatan yang digelar Program Studi S1 Statistika Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya di SMA Negeri 1 Besuki, Situbondo, pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Kegiatan bertema “SMART LEARNING MODULE: Penguatan Pembelajaran dan Asesmen Digital Berbasis AKM melalui Pendekatan Computational Thinking dan AI for Education bagi Guru SMA Negeri 1 Besuki” ini menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat 2026 skema Program Kemitraan Masyarakat Desa Binaan. Kegiatan ini didanai oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan dan sejalan dengan program AIRLEARN (Airlangga Inclusive and Resilient Lifelong Education, Access, Resources, and Network) UNAIR untuk memperluas akses pendidikan dan pembelajaran sepanjang hayat.

Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 56 Tahun 2026, pemerintah menggabungkan Asesmen Nasional dengan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Soal literasi membaca berkaitan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, sedangkan soal numerasi berkaitan dengan Matematika.

Hasil ujian memiliki dua fungsi, yaitu menunjukkan kemampuan individu siswa melalui Sertifikat Hasil TKA yang digunakan untuk persyaratan SNBP dan beberapa jalur masuk lainnya, serta menjadi bagian dari Rapor Pendidikan untuk melihat mutu sekolah. Oleh karena itu, guru perlu menyusun soal yang tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga melatih kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan memecahkan masalah.

Dr. Rahmawati, S.T., M.Ed., membuka sesi materi dengan menjelaskan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan kaitannya dengan TKA. Ia menerangkan bahwa literasi membaca dan numerasi membutuhkan pemahaman serta penalaran, bukan sekadar hafalan. Selanjutnya, Nania Nuzulita, S.Kom., M.Kom., memperkenalkan Safe Exam Browser (SEB), yaitu aplikasi yang membatasi akses ke situs dan aplikasi lain selama ujian berbasis komputer. Guru berlatih mengatur SEB Config Tool dan mempelajari cara mengatasi kendala teknis agar ujian digital berjalan dengan baik.

Materi kemudian dilanjutkan oleh Dita Amelia, S.Si., M.Si., mengenai Computational Thinking (CT), yaitu cara berpikir terstruktur untuk menyelesaikan masalah melalui empat pilar, yakni dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. Pada sesi materi AI for Education, Dita Amelia, S.Si., M.Si., menjelaskan cara memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu menyusun bahan ajar, membuat soal, menyiapkan rubrik penilaian, dan mengembangkan media pembelajaran. Meski dapat membantu pekerjaan guru, AI tetap harus digunakan secara bijak. Guru perlu memeriksa kebenaran hasilnya, menjaga data pribadi siswa, dan memperhatikan hak cipta.

Para guru mengikuti kegiatan dengan antusias dan aktif berdiskusi mengenai penerapan teknologi dalam pembelajaran sehari-hari. Seluruh materi dirangkum dalam Smart Learning Module yang dapat digunakan kembali sebagai panduan, termasuk latihan soal literasi dan numerasi. Dalam rangkaian tersebut, Program Studi S1 Statistika Universitas Airlangga dan SMA Negeri 1 Besuki juga menandatangani Implementation Agreement (IA) sebagai bentuk penguatan kerja sama kedua pihak. Penandatangan ini menjadi dasar pelaksanaan kolaborasi dalam peningkatan mutu pembelajaran dan asesmen digital di SMA Negeri 1 Besuki.

Kegiatan ditutup dengan perekaman video bersama dan penyampaian jargon dari UNAIR, Program Studi Statistika, SMA Negeri 1 Besuki, dan Situbondo. Pengabdian kepada masyarakat ini mendukung SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kemampuan guru dan SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kerja sama UNAIR dengan SMA Negeri 1 Besuki. Dengan adanya kegiatan ini, guru-guru diharapkan dapat menerapkan Computational Thinking dalam penyusunan soal, menggunakan AI secara aman dan bertanggung jawab, serta mengelola ujian digital secara mandiri. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah lain di daerah Situbondo.